Musdah Mulia: Adakah Islam Bicara Soal Homo?
Oleh: Eeng Suyoto
Senin, 22 Agustus 2011
Selasa, 07 Juni 2011
Sabtu, 07 Maret 2009
Otentisitas Alquran
Oleh: Eeng Suyoto
I
Pada masa hidup Nabi Muhammad, ayat-ayat Alquran direkam secara tertulis di berbagai bahan - pelepah korma, kulit binatang, lempeng batu, tulang binatang - yang semuanya itu biasa disebut dengan qirthas dan kitab (jamak: kutub). Kertas, bahan yang lebih modern, dikenal lebih dulu di Persia dengan sebutan kaqhid. Surat-surat telah tersusun sesuai instruksi Nabi sendiri. Para pendokumentasi Alquran adalah Ali bin Abi Thalib, Utsman bin Affan, Ubay bin Ka'ab, Zaid bin Tsabit, dan Mu'awiyah. Dua yang terakhir itu menulis paling banyak.
II
Masa Abu Bakar
Kodifikasi lembaran-lembaran Alquran mulai dirintis. Sebuah panitia dibentuk, dipimpin Zaid bin Tsabit, menghasilkan sebuah kumpulan saja. Pasca meninggalnya Abu Bakar, naskah ini beralih ke tangan Umar bin Khaththab. Dan bila yang terakhir itu pun wafat, satu-satunya kodifikasi Alquran ini dipegang oleh puterinya sekaligus janda Nabi, ummul mukminin Hafsah binti Umar.
III
Masa Utsman bin Affan
Dibentuk juga panitia terdiri dari Zaid bin Tsabit (ketua), Abdullah bin Zubair, Sa'id bin 'Ash, Abdurrahman bin Harits bin Hisyam. Dibuatlah lima buah kodifikasi, masing-masing di Madinah - dikenal sebagai Mushhaf Al Imam - dan yang empat buah lainnya dikirim ke Mekah, Siria, Basrah, dan Kufah.
Data ini dimuat dalam Alquran dan Terjemahnya, Departemen Agama Republik Indonesia.
Data Historis Lain
Husain Haikal dalam bukunya Sejarah Hidup Muhammad merasa perlu menjelaskan dalam satu bab tersendiri sejarah dua kalimat ayat Alquran yang kemudian dikenal sebagai "ayat-ayat setan". Bab yang menjelaskan soal gharaniq itu memuat dibacakannya dua anak kalimat oleh Nabi yang merangkul dewa-dewa orang Quraisy untuk dijadikan perantara kepada Tuhan, dan kemudian Jibril menegurnya "saya bawakan dua anak kalimat itu?" Nabi mengakui kesalahannya, kemudian memerintahkan menghapus dua anak kalimat tersebut.
Oleh Irshad Manji perbuatan Nabi ini , yaitu sunnah, disebutnya sebagai menyunting Alquran, yang bisa saja dilakukan oleh para sahabat di kemudian hari. Sunnah kan?
Perawi hadits, Bukhari - mengutip Hudzaifah, sahabat Nabi - dalam shahihnya mengatakan "Dahulu di zaman Rasulullah, surat Al Ahzab itu panjangnya sama dengan Al Baqarah. Pada surat Al Ahzab sekarang ini hilang 70 ayat." Pengurangan sejumlah ayat yang kemudian menjadi surat Al Ahzab seperti kita kenal sekarang, disepakati oleh kalangan Sunni dan Syi'i. Artinya, sama-sama bisa menerima.
Jadi, mengapa Tuhan bersumpah memelihara Alquran? Kalau tak akan ada gangguan apapun - penambahan, pengurangan, penyelewengan, atau semacamnya - mustahil dipelihara kan? Spekulasi bahwa Alquran bisa diragukan otentisitasnya oleh Irshad Manji dan direka karang oleh Salman Rushdie jadi lebih bisa diterima. OK?
Diyakini sebagai kalam Ilahi, Alquran dalam benak muslim tak tergugat kemurniannya. Benarkah demikian? Mari kita simak beberapa catatan historis berikut.
Pernahkah terlintas dalam pikiran Anda, Alquran terberi dalam keadaan sedemikian, tak berubah sedikit pun sejak awal hingga paling tidak sampai dengan yang Anda baca saat sekarang? Mengapa Tuhan menegaskan memelihara Alquran? Dari apa?
I
Pada masa hidup Nabi Muhammad, ayat-ayat Alquran direkam secara tertulis di berbagai bahan - pelepah korma, kulit binatang, lempeng batu, tulang binatang - yang semuanya itu biasa disebut dengan qirthas dan kitab (jamak: kutub). Kertas, bahan yang lebih modern, dikenal lebih dulu di Persia dengan sebutan kaqhid. Surat-surat telah tersusun sesuai instruksi Nabi sendiri. Para pendokumentasi Alquran adalah Ali bin Abi Thalib, Utsman bin Affan, Ubay bin Ka'ab, Zaid bin Tsabit, dan Mu'awiyah. Dua yang terakhir itu menulis paling banyak.
II
Masa Abu Bakar
Kodifikasi lembaran-lembaran Alquran mulai dirintis. Sebuah panitia dibentuk, dipimpin Zaid bin Tsabit, menghasilkan sebuah kumpulan saja. Pasca meninggalnya Abu Bakar, naskah ini beralih ke tangan Umar bin Khaththab. Dan bila yang terakhir itu pun wafat, satu-satunya kodifikasi Alquran ini dipegang oleh puterinya sekaligus janda Nabi, ummul mukminin Hafsah binti Umar.
III
Masa Utsman bin Affan
Dibentuk juga panitia terdiri dari Zaid bin Tsabit (ketua), Abdullah bin Zubair, Sa'id bin 'Ash, Abdurrahman bin Harits bin Hisyam. Dibuatlah lima buah kodifikasi, masing-masing di Madinah - dikenal sebagai Mushhaf Al Imam - dan yang empat buah lainnya dikirim ke Mekah, Siria, Basrah, dan Kufah.
Data ini dimuat dalam Alquran dan Terjemahnya, Departemen Agama Republik Indonesia.
Data Historis Lain
Husain Haikal dalam bukunya Sejarah Hidup Muhammad merasa perlu menjelaskan dalam satu bab tersendiri sejarah dua kalimat ayat Alquran yang kemudian dikenal sebagai "ayat-ayat setan". Bab yang menjelaskan soal gharaniq itu memuat dibacakannya dua anak kalimat oleh Nabi yang merangkul dewa-dewa orang Quraisy untuk dijadikan perantara kepada Tuhan, dan kemudian Jibril menegurnya "saya bawakan dua anak kalimat itu?" Nabi mengakui kesalahannya, kemudian memerintahkan menghapus dua anak kalimat tersebut.
Oleh Irshad Manji perbuatan Nabi ini , yaitu sunnah, disebutnya sebagai menyunting Alquran, yang bisa saja dilakukan oleh para sahabat di kemudian hari. Sunnah kan?
Perawi hadits, Bukhari - mengutip Hudzaifah, sahabat Nabi - dalam shahihnya mengatakan "Dahulu di zaman Rasulullah, surat Al Ahzab itu panjangnya sama dengan Al Baqarah. Pada surat Al Ahzab sekarang ini hilang 70 ayat." Pengurangan sejumlah ayat yang kemudian menjadi surat Al Ahzab seperti kita kenal sekarang, disepakati oleh kalangan Sunni dan Syi'i. Artinya, sama-sama bisa menerima.
Jadi, mengapa Tuhan bersumpah memelihara Alquran? Kalau tak akan ada gangguan apapun - penambahan, pengurangan, penyelewengan, atau semacamnya - mustahil dipelihara kan? Spekulasi bahwa Alquran bisa diragukan otentisitasnya oleh Irshad Manji dan direka karang oleh Salman Rushdie jadi lebih bisa diterima. OK?
Rabu, 04 Februari 2009
Benci Setan?
e.sie
Setan adalah (juga) ciptaan Tuhan, pembangkang nomor wahid. Tidakkah kita boleh membencinya? Mungkin, tapi apa perlunya? Setan ditaati (ajakannya) gak ada untungnya, dicuekin gak ada ruginya. Quran memposisikan setan sebagai musuh. Kita tidak selalu membenci musuh. Tidak harus. Comment?
Setan adalah (juga) ciptaan Tuhan, pembangkang nomor wahid. Tidakkah kita boleh membencinya? Mungkin, tapi apa perlunya? Setan ditaati (ajakannya) gak ada untungnya, dicuekin gak ada ruginya. Quran memposisikan setan sebagai musuh. Kita tidak selalu membenci musuh. Tidak harus. Comment?
Senin, 08 Desember 2008
Daging Kurban: Mentah atau Matang?
Oleh: Eeng Suyoto
Saya punya dua kasus daging kurban. Kurban pertama.
Sebuah keluarga muslim menanyai para tetangga penerima daging kurban: mau mentah atau yang sudah berupa sate dan gule. Semua (baca: semua!) memilih sate dan gule. Malam takbir mereka menyerahkan rantang untuk wadah gule yang dibagikan keesokan harinya. Enak? Tentu saja. Sate gule diolah oleh penjual sate beneran yang hari itu libur. Ukuran satenya juga lebih mantap. Tidak untuk dijual 'kan?!
Anggota keluarga yang tua menyarankan supaya tetap diberikan daging mentah sebagian, sekedar memenuhi syariat. Ustadz tamu yang diundang, ketika kami tanya pendapatnya tentang pilihan penerima, akhirnya tak bisa bicara apa-apa.
Kurban kedua.
Keluarga ini beberapa kali (artinya beberapa tahun) menemukan daging kurban mentah dalam keadaan busuk terbuang begitu saja. Mereka lalu memutuskan untuk mengolah kurban sembelihan menjadi berbagai masakan, lalu membagikannya berupa nasi kotak lauk daging dan lain-lain, lengkap dengan minuman dan jajan. Para penerima mengantri keesokan harinya. Enak, bersih, tinggal santap.
Boleh jadi Al Ghazali atau Imam Syafi'i sama-sama sepakat membagikan daging kurban (mentah). Zaman berubah. Kedua fuqaha yang terhormat tertinggal beratus tahun silam . . . Dan, saudaraku, ini muslim di Indonesia.
Kalau mau praktis, ya daging dipotong-potong, dibagikan. "Mengolahnya perlu bumbu macam-macam, terus isteri saya tidak biasa masak daging kambing, rasanya nggak karuan," ujar beberapa penerima pembagian daging kurban. "Enak matengnya!" sahut yang lain.
Saya punya dua kasus daging kurban. Kurban pertama.
Sebuah keluarga muslim menanyai para tetangga penerima daging kurban: mau mentah atau yang sudah berupa sate dan gule. Semua (baca: semua!) memilih sate dan gule. Malam takbir mereka menyerahkan rantang untuk wadah gule yang dibagikan keesokan harinya. Enak? Tentu saja. Sate gule diolah oleh penjual sate beneran yang hari itu libur. Ukuran satenya juga lebih mantap. Tidak untuk dijual 'kan?!
Anggota keluarga yang tua menyarankan supaya tetap diberikan daging mentah sebagian, sekedar memenuhi syariat. Ustadz tamu yang diundang, ketika kami tanya pendapatnya tentang pilihan penerima, akhirnya tak bisa bicara apa-apa.
Kurban kedua.
Keluarga ini beberapa kali (artinya beberapa tahun) menemukan daging kurban mentah dalam keadaan busuk terbuang begitu saja. Mereka lalu memutuskan untuk mengolah kurban sembelihan menjadi berbagai masakan, lalu membagikannya berupa nasi kotak lauk daging dan lain-lain, lengkap dengan minuman dan jajan. Para penerima mengantri keesokan harinya. Enak, bersih, tinggal santap.
Boleh jadi Al Ghazali atau Imam Syafi'i sama-sama sepakat membagikan daging kurban (mentah). Zaman berubah. Kedua fuqaha yang terhormat tertinggal beratus tahun silam . . . Dan, saudaraku, ini muslim di Indonesia.
Langgan:
Entri (Atom)


